Dengan kepala berat Zena mencoba membuka kedua matanya. Wanita itu mengerang saat cahaya lampu menembus matanya. Beberapa kali Zena mencoba merem melek, sampai akhirnya ia bisa menatap keseliling. Sejenak Zena terdiam. Di kamar? Dirinya di kamar? Bukankah seingatnya tadi ia lagi di jalan? Kenapa sekarang tiba-tiba ada di kamar? Zena menarik kedua tangannya, namun tarikannya tidak membuahkan hasil. Alias, Zena baru sadar kalau tangannya terborgol. Zena mendongak ke atas, seketika jantungnya berdegup kencang. Boleh jadi Zena panik dan takut, orang waras mana yang memborgol orang lain seperti ini? “Tolong! Siapapun tolongin saya!” teriak Zena dengan suara bergetar. Rasa panik dan takut kini beradu menjadi satu. Tunggu. Sejenak Zena terdiam. Ia kembali mengamati kamar yang sedang ditempati

