Sudah satu jam berlalu, namun pengaruh obat di tubuh Zena belum juga reda. Sejak tadi, Justin sekuat tenaga menahan diri agar tidak kelewatan batas. Padahal kalau difikir-fikir, ini kesempatan emas. Tapi saat Justin mau melakukan, dia tersadar. Alhasil Justin mendorong Zena ke atas kasur, membiarkan wanita itu bergeliat gelisah. Walaupun jujur saja Justin tidak tega melihatnya. Tetapi lebih tidak tega kalau ia harus merusak anak gadis orang. Justin memang sudah menyukai Zena sejak lama, tetapi dia tidak ada niat yang benar-benar niat untuk merusak. Maka dari itu kali ini Justin cukup dilema. Antara maju atau mundur, batinnya sedang berperang hebat. Justin yang sudah bertelanjang d**a berdiri di balkon, menatap view yang indah dari kamarnya. Sedang asik-asiknya berperang batin, Justin dib

