“Sejujurnya … aku ngga tau kenapa bisa mengiyakan diajak ke sini lagi. Harusnya di parkiran kita berpisah, aku pulang. Kenapa ikut lagi ke sini?” “Berarti naluri kamu ingin sama saya terus.” Zena melirik Justin yang sedang bermain laptop. Entah apa yang sedang pria itu kerjakan, tetapi sejak setengah jam yang lalu dia sangatlah fokus. Saking terlihat fokusnya, Zena sampai tak berani menegur. Baru ini ia mengeluarkan suara setelah melihat Justin merenggangkan tangan. Sejenak Zena termenung, memikirkan perkataan Justin tadi. ingin terus sama dia? Masa iya? Tidak mau memikirkan, Zena memilih mengalihkan pandangannya ke jendela. Hujan lebat masih mengguyur, awan gelap benar-benar mendominasi. Sejak tadi beberapa kali orang tuanya menghubungi, menanyakan ke mana sampai tidak pulang. Ini kala

