“Zena!” Mendengar namanya dipanggil tak membuat Zena menghentikan larinya. Siapapun yang saat ini memanggil, Zena tak berharap akan ditenangkan. Semakin lama Zena berlari, kedua kakinya mulai melemas. Dengan sisa-sisa tenaga Zena mencoba terus menarik kedua kakinya. Namun di tengah usahanya berlari, tiba-tiba tangannya dicekal dari belakang. Langkah kaki Zena mau tidak mau terhenti. Walaupun begitu Zena tak ada niat menoleh ke belakang. Isakan Zena masih terdengar karena wanita itu benar-benar tak bisa menahan air matanya. Justin sejenak diam, mendengarkan isakan Zena yang terdengar pilu di telinganya. Bisa saja dia langsung memeluk, namun Justin tak mau membuat Zena risih dalam situasi seperti ini. “Zen.” Di tengah kekalutan, Zena mencoba mengenali suara tadi. Itu bukan suara milik Ge

