“See? Ngga diangkat sama dia, Rev. Lagipula lo mau ngapain lagi cari dia? Setelah apa yang udah lo perbuat ke dia selama ini. Gue kalau jadi dia juga ngga akan sudi ketemu lo lagi.” Ponsel Cellin letakkan kembali di atas meja. Tatapan wanita itu tertuju kepada sang sahabat yang kini terdiam sambil melamun. Entah apa yang ada difikiran Revinka saat ini, Cellin sendiri tidak mengerti. Ini bukan kali pertama mereka bertemu dan membahas soal Zena. Masalahnya Cellin tidak mau berpihak pada siapapun, ia ingin berdiri di tempat netral. Ia memang kesal dan marah kepada Revinka, tetapi untuk meninggalkan, Cellin juga tak tega. Apa lagi ia tahu bagaimana kehidupan Revinka selama ini. Dibalik kelakuannya yang di luar kepala, sebetulnya Revinka orangnya sangat pendiam. Dia juga tidak punya banyak t

