“Ayo, sayang,” ucap Rayan lembut sambil mengusap rambut Kely perlahan, lalu mengecup keningnya singkat. Tangannya menggenggam tangan Kely erat ketika ia mulai melangkah. Kely hanya terbengong, terlalu terkejut dengan sikap Rayan, dan akhirnya menurut tanpa sepatah kata—hingga mereka tiba di parkiran. “Hei… sayang. Kely… Kely,” panggil Rayan sambil melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu. “Kamu bengong lagi. Dari tadi memang hobinya melamun, ya?” “Eh—iya. Ada apa?” jawab Kely gelagapan, seolah baru tersadar dari pikirannya sendiri. “Kok bisa sih kamu sering banget bengong?” Rayan tersenyum kecil. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi urusan tadi sama Alexa. Anggap saja tidak pernah terjadi. Sekarang, kita mau ke mana?” Kely mengernyit. “Kita? Kenapa ‘kita’? Harusnya kamu pulang

