“Tapi kalau memang jodoh,” gumam Rayan dalam hati. “Siapa peduli umur?” “Persetan dengan omongan orang. Ini hidupku.” “Delapan belas tahun… setahuku sudah bisa menikah.” “Masalahnya Cuma satu: dia yang belum mau.” Rayan mengepalkan jari di setir. “Kalau aku diam saja, bagaimana kalau dia diambil orang lain?” “Tidak. Aku harus bertindak. Aku harus cari cara supaya dia mau.” “Aku nggak boleh kehilangan dia.” Di sampingnya, Kely menangkap kegelisahan itu sekilas dari raut wajah Rayan. Namun entah kenapa, ia malas bertanya. Suasana di dalam mobil pun jatuh ke dalam keheningan yang canggung. Kok rasanya ada yang kelupaan, ya… batin Kely, alisnya berkerut. Ia mencoba mengingat-ingat. Satu menit. Dua menit. Tiba-tiba matanya membelalak. “Astaga…!” serunya spontan, nyaris ber

