Dua jam berlalu… Alana keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah dan wangi sabun yang melekat di kulitnya. Ia berdiri di depan cermin, sibuk memakai skincare, sementara pakaiannya… sangat jauh dari kata sederhana—lebih dekat ke “menggoda tanpa sadar”. Sagara, yang sejak tadi berbaring di ranjang dengan rokok di tangan, meliriknya sambil tersenyum kecil. “Mas Sagaraaa… Mas mau sampai kapan ngerokok terus sih?” Alana mengerucutkan bibir, menatapnya lewat pantulan cermin. Sagara menghisap rokoknya santai. “Emang kenapa, sayaaang, hmm?” Alana langsung memutar badan. “Mas masih nanya? Ya enggak baik buat kesehatan dong, Mas! Nanti Mas sakit gara-gara ngerokok! Lagian apa enaknya sih ngerokok?” Nada suaranya sudah kembali—bawel, cerewet, perhatian. Versi Alana yang sela

