Hingga akhirnya pagi pun tiba. Di meja makan yang sempit, Boby dan Bi Darmi sudah duduk bersiap sarapan. Sementara Arumi mondar-mandir kecil dengan langkah lembut, menyendokkan nasi goreng ke piring, menuangkan teh hangat, memastikan semuanya tersaji dengan rapi. Aroma nasi goreng buatannya semerbak memenuhi ruangan. Namun pagi itu terasa berbeda. Terlalu sunyi. Seolah ada sesuatu yang menggantung di udara—tak terlihat, tak terucap, tapi terasa menekan d**a. Bi Darmi menoleh ke sekeliling. Keningnya berkerut tipis. “Lho… Neng Rara di mana? Apa belum bangun?” Arumi yang sedang menuangkan teh menjawab pelan, “Arumi juga nggak tahu, Bu.” Boby yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba menggaruk kepalanya pelan. Gerakan kecil yang terlihat biasa—padahal itu kebiasaannya setiap kal

