SEASON 4 // BAB 48

934 Words

Keesokan harinya Di sekolah. Ada yang berbeda dengan Tania pagi itu. Biasanya ia datang dengan tawa paling keras, wajah paling cerah, dan semangat paling tinggi—terutama jika sudah bicara soal bolos bareng geng-nya. Namun hari ini, langkahnya gontai. Bahunya turun. Tatapannya kosong. Seolah semalam ia kehilangan sebagian energinya. Perjodohan itu… benar-benar menggerogoti pikirannya. “Eh, kenapa sih lo, Tan?” Rara menyenggol lengannya. “Nggak asik banget hari ini.” “Iya, biasanya lo paling ribut kalau kita ajak cabut,” sambung Nita. “Sekarang malah kayak bunga kurang air. LAYU... TAU NGGAK SIH!” Kely terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. “Ya udahlah. Kita maklumi. Mungkin Tania mau insyaf. Tobat jadi anak nakal,” godanya. Tania mengembuskan napas panjang. Ia hendak bi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD