Satu hari kemudian… Di sekolah. Tok… tok… tok… “Masuk.” Tania membuka pintu perlahan. Ruangan itu terasa dingin—entah karena pendingin udara, atau karena aura pemiliknya. Bara duduk di balik meja kerja, menatap layar laptop dengan fokus penuh, seolah keberadaan siapa pun di depannya tak berarti apa-apa. “P-pagi, Pak,” sapa Tania hati-hati. Bara mengangkat kepala sekilas. Tatapannya singgah satu detik di wajah Tania—cukup lama untuk membuat jantung gadis itu berdegup tak karuan—lalu kembali tenggelam ke layar. Tania berdiri kaku, jemarinya saling menggenggam. “Ada apa?” tanya Bara dingin, nada suaranya jelas tak sabar. “Ehm… i-ini, Pak. Tugas yang kemarin… sudah selesai Tania kerjakan." Bara hanya melirik singkat, lalu menunjuk meja di depannya tanpa menoleh. “Taruh di

