Setelah selesai memasak, Tania menyajikan makanan di atas meja dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Bara sudah duduk sejak tadi, namun pandangannya kosong—tatapannya hanya tertambat pada piring di depannya. Tak ada obrolan. Tak ada senyum. Hanya bunyi sendok yang beradu pelan dengan piring, mengisi jarak sunyi di antara mereka. Baru saja mereka selesai makan, ponsel Bara bergetar di atas meja. Ia melirik layar sekilas, lalu segera mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Rafi, teman sekolahnya dulu. Bara menjauh sedikit. “Halo, Fi,” ucapnya singkat. “Bara, jam sembilan kita tunggu di tempat biasa, ya,” suara Rafi terdengar tegas dari seberang. “Oke,” jawab Bara pendek, lalu mematikan panggilan tanpa banyak basa-basi. Tempat biasa itu—sebuah bar besar dan terkenal—menyimpan ban

