** Kembali pada Alif di rumahnya… “Assalamualaikum, Mbok.” Suara itu terdengar pelan… namun hangat. Mbok Ijah yang sedang melamun seketika menoleh— Dan langsung terkejut. “MasyaAllah… Den Alif?!” Matanya membesar, lalu perlahan berubah menjadi haru. “D-Den Alif… sekarang sudah nggak apa-apa?” “Den Alif baik-baik saja, kan?” tanyanya gugup, nyaris tak percaya melihat perubahan di wajah pria itu. Alif tersenyum tipis. “Alhamdulillah… sekarang Alif sudah lebih baik, Mbok.” Senyum itu memang ada… Tapi di matanya— Masih tersisa luka yang belum benar-benar sembuh. “Ya sudah, Mbok. Alif mau keluar sebentar.” “Mau ke rumah Pak Ustadz Anwar.” “Assalamualaikum.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik— Melangkah pergi menuju garasi. Seolah ada sesuatu yang harus s

