DI RUMAH GAVIN Waktu menunjukkan pukul 11:00 siang. Langit tampak terik, dan udara di luar begitu panas—namun langkah Gavin justru semakin cepat, tergesa, nyaris berlari menuju rumah. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, kemeja kantor yang dikenakannya pun sudah kusut. Begitu pintu rumah terbuka, suaranya langsung menggema di ruang tamu. “Sayang! Lauraaa! Kamu di mana, Sayang? Kamu udah pul—” Kalimatnya terhenti di tengah udara. Ia menahan napas, lalu mengembuskannya panjang. Raut tegang di wajahnya perlahan melunak menjadi lega yang luar biasa. Di hadapannya, berdiri Laura—dengan tas belanja di tangan, rambut sedikit berantakan, tapi jelas-jelas baik-baik saja—ia baru saja pulang shopping. “Mas Gavin?” Laura mematung, terkejut melihat suaminya pulang dengan wajah setegang itu

