DI KANTOR Waktu menunjukkan pukul satu siang. Gavin dan asistennya, Pak Anton, sedang sibuk mengecek tumpukan barang ekspor yang akan dikirim ke Jepang sore nanti. Gudang kecil di belakang kantor itu penuh dengan aroma kayu, lem, dan kertas karton. Gavin mengenakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung, rambutnya sedikit berantakan karena keringat, tapi justru itu membuatnya terlihat makin berwibawa. “Pak, tolong pastikan semua palet dikunci rapi ya. Nanti jangan sampai yang nomor tiga ketinggalan dokumennya,” ucap Gavin sambil menandai daftar di tangannya. Namun, baru saja ia menunduk lagi, salah satu karyawannya berlari kecil menghampiri. “Maaf, Pak Gavin...” katanya agak gugup. “Ada istri Bapak... nyariin Bapak di depan.” “Istri saya?” Gavin mendongak cepat, keningnya b

