“K-Kak Laras.???” Suara Alana terdengar gugup, tangannya bergetar hingga botol air mineral yang tadi ia pegang jatuh ke tanah dan menggulir pelan di antara kaki mereka. “Kakak Alana, kakak Alana kenapa? Itu air buat bersihin luka kakak Sagara-nya kan tump—” Ucapan Kiara terpotong di tengah jalan. “A-Alana.?? Kamu ngapain di sini sama kak Sagara….” Nada suara Laras melambat. Pandangannya berganti cepat dari wajah Alana ke Sagara. Namun sebelum amarahnya sempat meledak, Laras buru-buru menarik napas panjang dan menahan diri. “Enggak, enggak… aku enggak boleh marah di depan Sagara. Kalau aku marah, dia bisa ilfeel. Aku harus sabar, harus kelihatan lembut. Aku harus pura-pura baik di depan dia…” batinnya bergetar menahan rasa kesal yang membara. “Iya, Dek… ini Kak Laras. Kok kamu ada d

