Tanpa pikir panjang, Diki langsung mengangkat tubuh itu ke pelukannya. Darah itu tak berhenti. Hangat, kental, dan berbau anyir menusuk hidung Diki. Setiap langkahnya meninggalkan jejak merah di lantai—mereka seperti berjalan di atas neraka basah yang licin oleh darah. Baju Diki sudah basah kuyup, warna aslinya nyaris tak terlihat lagi. Darah Renata menempel di leher, tangan, bahkan merembes ke dadanya, membuatnya seolah mandi darah bersama perempuan yang… entah ia sebut apa. Istri, tapi tak pernah ia cintai. Seseorang yang selama ini ia abaikan, namun kini nyawanya dan nyawa anaknya berada di ujung tanduk di pelukan Diki sendiri. “Bertahan, Ren… Abang mohon… demi bayi kita,” suaranya pecah, lirih, lebih terdengar seperti doa yang ia tahu mungkin sudah terlambat. Dengan panik, ia m

