DI RUMAH SAGARA YANG BARU Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Lampu-lampu rumah baru itu menyala lembut, menebarkan kehangatan yang belum terasa akrab. Dari luar jendela, suara jangkrik samar-samar terdengar, menandakan malam sudah larut. Gavin dan Laura baru saja tiba bersama Sagara, Alana, dan Kiara. Semua tampak lelah, tapi ada kebahagiaan kecil yang masih tersisa di wajah mereka. “Ya sudah, Sagara. Ajak Alana ke kamar, biar dia istirahat. Kasihan, istrimu pasti kecapekan,” ujar Gavin pelan sambil menatap ke arah Alana yang terlihat pucat. Seharian penuh ia berdiri menyapa tamu undangan di acara pernikahannya, tak heran tubuhnya kini nyaris tak punya tenaga. “I... iya, Pah,” sahut Sagara gugup. Ia berusaha menuruti perkataan ayahnya, karena percuma saja membantah — Ga

