Melihat Sagara yang lagi-lagi memohon dengan suara bergetar, Gavin tetap tak bergeming. Sorot matanya keras—sekeras tekadnya menjaga nama baik keluarga. Ia justru memberi isyarat kepada putranya agar segera menuju pelaminan, tempat Alana sudah duduk menunggu dengan wajah pucat menahan cemas. “Enggak, enggak bisa, Sagara! Papah enggak bisa memenuhi permintaan kamu ini. Lagian kita sudah ditunggu-tunggu dari tadi. Sekarang, ayo kita ke sana!” kata Gavin tegas, nada suaranya menggema di tengah ruangan yang mendadak hening. “Ta… tapi, Pah…” Belum sempat Sagara menyelesaikan kalimatnya, Gavin langsung memotong. “Enggak ada tapi-tapian! Sekarang juga, ayo cepat ke sana!” Suara itu menusuk. Tegas. Tak memberi ruang bagi penolakan. Gavin menggandeng tangan putranya, menyeret langkahnya y

