“Maaf, Nona… bisa Anda pergi dari meja kami?” Suara Darrell terdengar tenang—namun tegas. “Kami tidak nyaman dengan kehadiran Anda. Kami hanya ingin makan berdua.” Ia menatap lurus ke arah wanita itu, tanpa ragu. “Di sana masih banyak kursi kosong. Jadi… tolong hargai kami, sebelum saya harus bersikap lebih tegas.” Suasana mendadak membeku. Fara mengepalkan tangannya. Harga dirinya terasa terinjak. Ingin sekali ia membalas… Namun sorot mata Darrell—dingin dan tajam—membuatnya menelan semua kata. Tanpa pilihan lain, ia berdiri. Dengan langkah cepat—dan hati yang terbakar—ia pergi meninggalkan meja itu. Nita menatap kepergian wanita itu, sedikit tak enak hati. “Maaf, Mas…” ucapnya pelan. “Apa tadi nggak sebaiknya kita biarkan saja dia duduk?” Ia menunduk. “Wal

