DI RUMAH DIKI Pukul 07.00 pagi. Anita mondar-mandir di dalam kamar, wajahnya gusar. Semalaman ia menunggu, namun Diki tak kunjung pulang juga. Sesekali ia menatap jam dinding dengan resah, jantungnya berdetak kencang. “Kebiasaan kamu, Bang… selalu nggak pernah anggap aku istri. Bahkan sudah pagi begini, kamu belum juga pul—” ucapnya terhenti begitu saja. Pintu kamar mendadak terbuka. Diki muncul dengan wajah letih, langkahnya berat, matanya tampak sayu. Tanpa sepatah kata, ia langsung masuk begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa. “Dari mana saja kamu, Bang?!” suara Anita pecah, ketus, sarat dengan kekesalan yang ia tahan semalaman. “Pagi-pagi baru pulang… apa kamu nggak mikir perasaan aku sedikit pun?” Diki berhenti sejenak, lalu menjawab datar, tanpa ekspresi, tanpa menoleh

