“Iya, sayang.” Kenzo menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Cindy sudah menipu Mas.” “Dia mengaku-ngaku sebagai cinta masa kecil Mas… padahal yang sebenarnya itu kamu.” Kalimat itu jatuh begitu saja—berat, penuh penyesalan. Kenzo terdiam sejenak, pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Pada pencarian yang tak pernah berhenti. Pada rasa rindu yang selalu terasa, tapi tak pernah tahu harus menemukan ke mana. “Sebenarnya… dulu Mas sering banget nyari kamu, sayang.” “Mas bolak-balik ke taman itu.” “Taman tempat kita pertama kali ketemu.” Senyumnya mengembang pahit. “Tapi sesering apa pun Mas datang ke sana… Mas nggak pernah berhasil nemuin kamu.” Ia berhenti bicara. Tangannya refleks menggenggam tangan Alesha—erat, seolah takut kehilangan lagi. “Mas benar-benar minta maaf.” “Mas min

