“A-apa, Ra?!” Salah satu teman Rara langsung menjerit kaget setelah mendengar percakapannya dengan sang ibu melalui telepon. “Jadi… kalau gitu…” ia menatap Rara dengan mata membesar. “Sebentar lagi kamu dan keluarga kamu bakal jatuh miskin?” Ucapan itu terasa seperti pisau yang langsung menusuk harga diri Rara. Temannya itu menggeleng-gelengkan kepala, seolah tak percaya. “Maaf ya, Ra…” katanya dingin. “Tapi kalau ceritanya kayak gini… kayaknya lebih baik kita nggak usah berteman lagi.” Rara tertegun. Belum sempat ia mengatakan apa-apa, temannya itu sudah berbalik badan dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. “Iya… maaf banget ya, Ra,” sahut beberapa teman yang lain. Nada suara mereka juga berubah canggung. “Kalau sekarang kondisinya kayak gini… kayaknya kita juga

