“Ya udah, lo hati-hati ya, Sag. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!” kata Diki, mencoba menahan Sagara yang hendak pergi. “Iya, Dik. Gue cabut dulu, ya.” Suara Sagara terdengar berat, sementara tangannya refleks menekan pelipis. Pusing di kepalanya semakin parah, tapi ia tetap berusaha berdiri tegak. Laras yang sejak tadi di sisinya langsung sigap memapah, membantunya melangkah menuju pintu keluar. Namun belum sempat mereka sampai, tiba-tiba suara Diki memecah udara. “E—eh! Sag! Tunggu dulu!” Sagara menoleh setengah kesal, sementara Laras menggertakkan gigi pelan. “Astaga, ini orang niat banget ya ngerecokin! Memperlambat rencana gue saja, sih!” rutuknya dalam hati. “Ada apa lagi, Dik?” tanya Sagara dengan napas berat. Diki menatap ke arah panggung, wajahnya mendadak tegang.

