“I–i–iya, silakan masuk, s-silakan masuk,” ucap Ibu Ati tergagap, suaranya bergetar menahan gugup. “Iya, Om Gavin... Tante Laura... Sagara... silakan masuk,” sambung Diki, mencoba tersenyum meski wajahnya tegang. “Terima kasih, Bu, Diki,” balas Laura lembut, disusul anggukan sopan dari Gavin. Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti Sagara yang tersenyum sopan pada Diki dan adik-adiknya. Namun langkah Sagara tiba-tiba terhenti ketika Diki dengan cepat menarik tangannya. “Sag, sini bentar deh,” bisik Diki tegang, wajahnya mulai panik. Sagara menatapnya heran. “Kenapa?” Diki menelan ludah. “Sebenernya ini ada apa, sih, Sag? Kenapa bokap nyokap lo ke sini? Gue nggak bikin salah apa-apa kan, gara-gara gue ngajak nginep lo di rumah gue semalam?” Sagara menahan tawa. Alih

