“Cieee… cieee! Pengantin baruuuu!” Suara ledekan itu langsung pecah begitu Rara melangkah masuk ke halaman sekolah. Beberapa teman barunya tiba-tiba muncul dari arah samping, wajah mereka penuh senyum usil. Ternyata sejak tadi mereka mengamati Rara dari kejauhan—tepat saat Alif menurunkannya di depan gerbang. Rara langsung memutar bola mata, kesal. Meskipun baru seminggu ia sekolah di sekolahan itu. Namun karena sifatnya yang mudah bergaul, royal, cantik, dan sering mentraktir, Rara dengan cepat punya banyak teman. “Jadi itu suami lo, Ra?” salah satu dari mereka bertanya sambil menaikkan alis. “Yang katanya ustaz muda itu?” timpal yang lain. “Yang alim, baik, dan katanya ngalahin segalanya dari Kak Reza?” tambahnya lagi dengan nada menggoda. Mereka semua langsung tertawa. Nama Rez

