halaman belakang mansion masih basah oleh embun pagi ketika Albert membuka pintu kaca perlahan. udara New York terasa dingin tapi segar. langit belum sepenuhnya terang. jam dinding di lorong menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Albert menoleh ke arah tangga, memastikan tidak ada suara langkah Kiara. mansion itu terlalu sunyi di jam seperti ini. sunyi yang justru ia butuhkan. “daddy.” suara kecil itu membuat Albert tersenyum. Valentina berdiri di ambang pintu dengan hoodie abu-abu kebesaran dan rambut yang masih berantakan. matanya setengah mengantuk, tapi penuh semangat. “kenapa bangun sepagi ini?” tanya Albert pelan. “daddy bilang mau ajarin permainan rahasia,” jawab Valentina sambil mengucek mata. Albert berlutut di hadapan putrinya. “ingat aturannya?” Valentina mengangguk cep

