Malam di wilayah selatan New York bergerak cepat, tidak memberi ruang bagi keraguan ataupun belas kasihan. Albert berdiri di pusat kekacauan yang terkontrol, sorot matanya dingin, penuh perhitungan. Tidak ada amarah berlebihan, tidak ada teriakan yang tidak perlu. Semua bergerak sesuai ritme yang sudah ia hafal sejak lama. Musuh-musuhnya datang dengan keyakinan bahwa jumlah dan keberanian cukup untuk menjatuhkannya. Mereka lupa satu hal: Albert tidak pernah membangun kekuasaannya dengan emosi, melainkan dengan kesabaran dan ketepatan. Ia melangkah maju, sepatu kulitnya menghantam lantai gudang yang dingin. Lampu-lampu terang memantulkan bayangan tubuh-tubuh bersenjata yang bergerak cepat, saling mengunci posisi. Albert mengangkat tangannya sedikit, isyarat halus yang langsung dipahami ana

