Hari-hari di kindergarten itu tidak lagi terasa sama bagi Valentina. Masih ada rasa takut yang kadang muncul tiba-tiba, seperti bayangan yang muncul tanpa diundang, tetapi kini bayangan itu tidak lagi sendirian. Ada satu sosok kecil yang selalu duduk di sampingnya, tidak banyak bicara, tidak memaksa, dan tidak pernah membuatnya merasa aneh karena diam. Ethan. Pagi itu, salju tipis mulai turun di New York. Belum cukup tebal untuk menutup jalan, tapi cukup membuat jendela kelas berkabut. Valentina duduk di tempat biasa dekat jendela, menggenggam pensil warnanya. Tangannya berhenti bergerak saat mendengar suara tertawa di sisi lain ruangan. Napasnya sedikit tertahan. Ethan melirik cepat ke arahnya. “Too loud?” tanya Ethan pelan. Valentina mengangguk kecil. Ethan menggeser kursinya sedik

