Victoria duduk di bangku besi di sel penjara yang gelap dan lembap, matanya menatap langit-langit seolah mencari jalan keluar dari situasi yang mengekangnya. Hati dan pikirannya penuh dengan tekad dan ambisi yang membara. Dia menolak untuk membiarkan dirinya membusuk di dalam penjara, dia tidak akan memberi kepuasan itu pada Albert dan Kiara. “Aku harus keluar… aku tidak boleh tinggal di sini terlalu lama,” gumamnya dengan suara pelan, tetapi penuh dengan niat licik. Dia mulai mengamati ritme penjara, mempelajari jam-jam penjagaan, pergerakan petugas, dan kebiasaan narapidana lain. Setiap detail kecil dicatat dalam pikirannya sebagai potensi jalan keluar. Victoria mempertimbangkan segala cara, baik yang legal maupun yang licik, bahkan yang mempertaruhkan nyawanya sendiri, selama itu memba

