Albert mendorong kursi roda Kiara perlahan di halaman rumah sakit, angin pagi yang sejuk menyentuh wajah mereka. Mata mereka bertemu, dan ada senyum hangat yang tertukar—tidak berlebihan, hanya sebuah ketenangan setelah badai yang mereka lalui. Kiara menghela napas panjang, merasa tubuhnya mulai segar kembali, tapi pandangan matanya masih menandakan ingin segera meninggalkan rumah sakit. “Albert… aku ingin pulang segera,” ujar Kiara pelan, tangannya menggenggam pegangan kursi roda. Albert menoleh sebentar menatap istrinya, menepuk lembut tangannya. “Aku tahu, tapi kita harus tunggu izin dari dokter dulu. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak mau kamu kelelahan lagi,” jawabnya tenang, suaranya hangat tapi mantap. Kiara menunduk sebentar, mengangguk. “Baik… aku sabar. Hanya… rasanya i

