Udara dini hari begitu dingin, kabut tipis menyelimuti halaman depan mansion itu. Lampu taman yang redup menambah suasana muram, seakan seluruh dunia sedang menahan napas. Di dalam kamar, Kiara duduk gelisah di tepi ranjang. Tangannya terus mengusap perut besarnya, merasakan setiap gerakan halus janin yang dikandungnya. Hatinya bergetar. Ia tahu, keputusan yang akan diambilnya berisiko besar, tapi ia tak sanggup lagi hanya diam menatap Alden dari jauh. Pelan-pelan, Kiara berdiri. Nafasnya teratur, kakinya melangkah perlahan menuju pintu balkon. Ia membuka tirai dengan hati-hati, memastikan tak ada suara berderit. Cahaya bulan masuk, membelai wajahnya yang pucat namun tegas. Ia mengenakan mantel tipis, menutup tubuhnya agar tidak menggigil. Langkahnya semakin berani saat melewati koridor

