Bab 97

2410 Words

Malam itu udara menusuk tulang, angin berembus kencang melewati pepohonan tinggi di sekitar mansion Albert. Suasana begitu hening, hanya sesekali suara ranting beradu terbawa angin. Di teras depan, tepat di bawah sorot lampu halaman yang meredup, Alden meringkuk dengan tubuh kaku menahan dingin. Jaket tipis yang ia kenakan sudah tak mampu melawan hawa malam. Bibirnya membiru, tangannya gemetar, namun matanya tetap menatap ke arah jendela lantai dua tempat kamar Kiara berada. Di dalam rumah, Albert berdiri tegak di balik tirai ruang tamu. Ia memandangi putranya dari jauh tanpa ekspresi. Ada secercah bayangan di matanya, entah itu amarah atau rasa iba yang sengaja ia kubur dalam-dalam. Namun tidak sekalipun ia bergerak untuk memberikan selimut, apalagi mengajak Alden masuk. Jam dinding ber

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD