Pagi itu, sinar matahari menembus jendela besar kamar utama mansion Roberto. Cahaya hangat menyentuh tirai lembut dan jatuh ke ranjang tempat Kiara duduk sambil memangku Valentina yang masih memakai piyama bayi berwarna putih dengan pola bunga kecil. Bayi mungil itu sedang merengek, bibirnya mengerucut lucu, pipinya memerah karena menangis terlalu lama. Albert berdiri di depan cermin, merapikan dasinya dengan wajah yang tampak antara canggung dan tidak tega. Suara tangisan Valentina yang nyaring membuatnya beberapa kali menoleh, sementara Kiara menepuk-nepuk punggung bayi itu dengan lembut. “Sayang,” ujar Kiara dengan senyum menenangkan, “Daddy cuma mau kerja sebentar. Nanti pulang cepat, ya.” Namun, Valentina sama sekali tidak peduli. Ia justru semakin menangis keras ketika melihat Alb

