Valentina berdiri di ambang pintu kamar tidurnya. rambutnya masih sedikit berantakan, piyama bergambar kelinci masih melekat di tubuh kecilnya. matanya mengikuti setiap gerakan Daddy yang sedang mengenakan pakaian serba hitam di depan cermin besar di kamar mereka. jas hitam. kemeja hitam. sepatu kulit yang mengilap. bagi Valentina, penampilan itu selalu berarti satu hal. Daddy akan pergi. “daddy mau ke mana?” tanya Valentina pelan, suaranya serak karena baru bangun tidur. Albert menoleh. ekspresinya langsung melunak. ia berlutut agar sejajar dengan tinggi putrinya. “daddy ada urusan sebentar.” alis Valentina langsung turun. bibirnya mengerucut. “ikut.” “tidak,” jawab Albert lembut. “daddy pergi kerja.” Valentina menggeleng cepat. ia melangkah maju dan memeluk kaki Albert. “ikut… m

