Albert memastikan pintu kamar tertutup rapat. Kiara tertidur pulas setelah ia menemaninya cukup lama, menata bantalnya, mengusap keningnya, memastikan tidak ada suara sekecil apa pun yang bisa membangunkannya. Nafas Kiara teratur, lembut, dan itu menjadi satu-satunya hal yang membuat Albert tenang sejenak. Ia memandang istrinya beberapa detik lagi sebelum akhirnya berdiri perlahan, menghindari suara, dan melangkah keluar kamar. Begitu pintu menutup di belakangnya, seluruh ekspresi lembut di wajah Albert lenyap dalam sekejap. Matanya menjadi dingin, rahangnya mengeras, dan auranya berubah total. Tidak ada lagi suami penuh kasih yang menenangkan istrinya. Yang tersisa hanya satu sosok—lelaki yang selama bertahun-tahun hidup dengan kuasa dan gelapnya dunia yang ia pimpin. Albert turun melal

