Setelah badai pengakuan yang meluluhlantakkan sisa-sisa pertahanan emosional di dalam apartemen itu mereda, Hayes Ludwig berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jantung kota yang tak pernah tidur. Namun, matanya tidak lagi melihat gemerlap lampu atau kesibukan jalanan; matanya hanya memantulkan bayangan Luna yang baru saja mencoba berdamai dengan kehadiran Mama Bella. Hayes merasakan sebuah beban yang jauh lebih berat daripada sekadar memenangkan tender triliunan rupiah atau menjatuhkan kompetitor bisnis. Di dalam dadanya, tumbuh sebuah tekad yang gelap sekaligus murni. Melihat Luna yang begitu rapuh, melihat bagaimana Axel—darah dagingnya sendiri—berbalik menghinanya, dan melihat betapa licinnya manipulasi Papa Miles selama ini, Hayes sampai pada satu kesimpulan mutlak:

