Kelelahan ini kini berubah menjadi kesedihan yang mendalam. Luna meringkuk di lantai kamar hotel, menangis dalam sunyi. Ia merasa seperti pengkhianat bagi cintanya sendiri, namun ia juga tahu bahwa ini adalah bentuk cinta yang paling sulit—mencintai dengan cara memberikan jarak agar keduanya bisa tumbuh. Ia berharap Hayes bisa memahami ini, meski ia ragu Hayes yang haus kontrol akan pernah mengerti konsep "kebebasan dalam cinta." Luna merasa lelah dengan pertarungan batin ini. Ia ingin semuanya berakhir, namun ia tahu ini hanyalah awal dari gelombang yang lebih besar dalam hubungan mereka yang penuh badai. Waktu seakan berjalan mundur bagi Luna. Di hari ketiga pelariannya, rasa rindu itu mulai berubah menjadi rasa sakit fisik yang nyata. Dadanya terasa sesak, dan kepalanya terus berdenyut

