Hayes tidak berkata apa-apa untuk waktu yang cukup lama. Ia hanya menatap Luna dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kemarahan yang tertahan, kerinduan yang menyiksa, dan ketakutan yang mendalam. Jiwanya seolah berteriak minta ampun. Di ruangan yang sempit dan pengap itu, Hayes Ludwig, pria yang bisa meruntuhkan bursa saham hanya dengan satu panggilan telepon, tampak seperti seorang pria yang sedang menunggu vonis hukuman mati. "Luna ...," suaranya pecah, sangat rendah, hampir seperti bisikan putus asa yang tertelan angin malam. "Ikut aku pulang." Luna tetap diam, tubuhnya bergetar hebat. Ia tidak mendongak, namun Hayes bisa melihat air mata yang menetes pelan ke atas pangkuannya. Di ruangan itu, kesunyian terasa begitu mematikan. Bagi Hayes, diamnya Luna adalah siksaa

