Kediaman utama keluarga Ludwig berdiri di atas lahan luas di pinggiran Jakarta, sebuah monumen arsitektur modern yang memadukan kaca temper, baja tahan karat, dan dinding marmer hitam yang dingin. Di malam hari, bangunan ini tampak seperti sebuah kuil kuno bagi kekuasaan dan ambisi. Namun bagi Axel Ludwig, yang secara teknis masih mendiami sayap kanan bangunan tersebut, rumah ini telah berubah menjadi labirin yang dipenuhi jebakan emosional dan mata-mata tak kasat mata. Tinggal serumah dengan pria yang baru saja ia hancurkan reputasinya secara digital dan wanita yang menjadi pusat dari segala kecemburuannya adalah bentuk penyiksaan diri yang paling brutal, namun juga posisi strategis yang paling mematikan. Malam itu, jam dinding di koridor utama berdentang dua kali, suaranya menggema re

