Hayes Ludwig berdiri tegak di depan dinding kaca kantor pribadinya di lantai paling atas Menara Ludwig, memandangi kemacetan Jakarta yang merayap di bawahnya seperti aliran lava yang dingin dan menjemukan. Di tangannya, selembar laporan intelijen dari tim keamanan siber tampak remuk dalam remasan jemarinya yang kuat. Cahaya senja yang kemerahan, warna yang menyerupai darah yang mengering, memantul di wajahnya yang kaku, mempertegas garis-garis kelelahan yang selama ini ia sembunyikan dengan sempurna dari dunia. Pria yang selama ini dikenal sebagai raksasa tanpa celah itu kini mulai merasakan getaran halus di bawah kakinya—sebuah pertanda bahwa fondasi kekuasaan yang ia bangun selama puluhan tahun sedang diguncang dari dalam oleh darah dagingnya sendiri. Ia menyadari bahwa waktu bukan la

