Miles Sterling berdiri mematung di tengah keheningan ruang kerjanya yang luas di kediaman utama Sterling, sebuah ruangan yang selama puluhan tahun menjadi pusat kendali dari imperium bisnis yang ia bangun dengan tangan besi dan kedinginan nurani. Cahaya sore yang temaram masuk melalui celah tirai beludru, menciptakan garis-garis panjang yang menyerupai jeruji penjara di atas lantai marmer Italia yang dingin. Namun, sore ini, keagungan ruangan itu terasa hampa. Miles menatap monitor besar di dinding yang terus-menerus menampilkan grafik pergerakan saham Sterling Group yang terus merosot, berwarna merah darah, seolah-olah sedang mencerminkan kondisi jantungnya yang berdenyut tidak beraturan. Posisinya yang selama ini ia anggap sebagai puncak tertinggi tak tergoyahkan, kini terasa seperti be

