Keheningan yang menyelimuti Jakarta di jam-jam terakhir sebelum fajar menyingsing adalah saat di mana keputusan-keputusan yang mampu mengubah peta kekuasaan biasanya diambil di balik pintu tertutup. Di sebuah penthouse minimalis yang terletak tepat di seberang Menara Ludwig, Clifford Vance berdiri dengan segelas air mineral di tangannya, menatap pemandangan kota dengan ketenangan seorang algojo yang sedang mengasah pedang. Berbeda dengan Miles Sterling yang meledak-ledak oleh emosi atau Hayes Ludwig yang saat ini sedang terserap sepenuhnya dalam perannya sebagai pelindung Luna, Clifford adalah tipe pria yang menghitung setiap tarikan napas lawannya sebagai data statistik. Selama berbulan-bulan, ia hanya menjadi penonton yang sabar, membiarkan dua raksasa industri itu saling mencabik satu

