Ketegangan di apartemen itu telah mencapai titik didih yang tak tertahankan. Udara terasa tipis, seolah-olah oksigen telah dihisap habis oleh kemarahan yang membuncah di antara dua manusia yang terjebak dalam jaring kebohongan mereka sendiri. Luna berdiri di tengah ruang tamu, wajahnya sembab namun matanya menyala oleh api pemberontakan yang jarang ia tunjukkan. Di hadapannya, Hayes Ludwig berdiri tegak seperti karang yang dihantam ombak, wajahnya kaku dengan ekspresi dingin yang bisa membekukan siapa pun yang berani menentangnya. "Aku tidak bisa terus begini, Hayes! Kamu mengurungku! Kamu membiarkan namaku diseret ke lumpur sementara kamu duduk tenang di kursi kebesaranmu!" teriak Luna, suaranya parau karena rasa frustrasi yang mendalam. Ia melempar ponselnya ke atas sofa, layar yang m

