Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar gelap bagi mereka yang sedang terjaga karena amarah, dan bagi Axel Ludwig, kegelapan hanyalah tirai tipis yang menyembunyikan kebusukan yang sedang ia preteli satu per satu. Ia duduk di apartemen pribadinya yang remang-remang, hanya diterangi oleh pendar biru dari tiga monitor komputer yang menyala di hadapannya. Wajahnya tampak pucat, hampir seperti hantu, dengan kantung mata yang menghitam akibat malam-malam tanpa tidur. Di atas meja kerja yang berantakan, terdapat sisa kopi dingin dan guntingan kertas, namun fokusnya hanya tertuju pada satu folder digital yang baru saja dikirimkan oleh detektif swasta kepercayaannya melalui jalur komunikasi terenkripsi. Tangan Axel gemetar saat ia menggerakkan kursor. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi

