Reruntuhan di Balik Mahkota.

1131 Words

​Layar monitor di hadapan Axel Ludwig masih memancarkan pendar biru yang pucat, menerangi wajahnya yang kini tampak seperti pahatan batu yang retak. Di luar jendela apartemennya, langit Jakarta mulai berubah menjadi abu-abu keunguan, pertanda fajar akan segera menyingsing, namun bagi Axel, matahari tidak akan pernah benar-benar terbit lagi. Dunia yang ia kenal—dunia di mana ia memiliki seorang ayah yang meski keras namun ia hormati, dan seorang sahabat bernama Luna yang ia cintai dengan kemurnian yang naif—telah runtuh menjadi puing-puing yang tajam. Fragmen foto samar yang baru saja ia unggah ke dunia maya seolah menjadi detonator yang tidak hanya menghancurkan reputasi Hayes Ludwig, tetapi juga meledakkan seluruh fondasi kewarasannya sendiri. ​Axel menyandarkan punggungnya ke kursi kerj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD