Arsitek Kehancuran.

1149 Words

​Cahaya fajar menyelinap di antara gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak seperti pilar-pilar raksasa yang menopang langit yang kelabu. Namun, di dalam kantor pusat Vance Enterprises, suasana tetap temaram dan dingin, seolah-olah matahari tidak pernah diizinkan masuk untuk menyinari niat-niat gelap yang sedang disusun di sana. Clifford Vance berdiri di depan jendela kaca raksasa yang membentang dari lantai hingga langit-langit, menatap ke arah Menara Ludwig yang menjulang megah di kejauhan dengan tatapan seorang predator yang sedang menghitung detik-detik terakhir sebelum mangsanya tersungkur. Kegagalan Axel semalam untuk memergoki ayahnya secara langsung di kamar utama bukanlah sebuah kerugian bagi Clifford; sebaliknya, itu adalah potongan data yang sangat berharga dalam kalkulasinya. C

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD