Di dalam sebuah kamar hotel kelas menengah yang temaram di pinggiran kota, Axel Ludwig duduk di tepi tempat tidur dengan napas yang memburu. Cahaya biru dari layar ponselnya memantul di wajahnya yang kuyu, memperlihatkan kantung mata yang menghitam karena kurang tidur. Jemarinya yang gemetar terus menggulir layar, melewati puluhan artikel portal berita dan ribuan komentar di media sosial yang sedang mendidih. Sejak ia meninggalkan rumah Ludwig dengan luka yang menganga di hatinya, Axel telah mencoba mengisolasi diri, namun racun yang disebarkan oleh Clifford Vance berhasil menembus dinding pertahanannya. Foto-foto siluet itu, meski wajah sang wanita dikaburkan secara sengaja, adalah sebuah belati yang menghujam jantung Axel. Ia tidak butuh konfirmasi dari siapa pun; ia mengenali bentuk ba

