19. Hangat yang Merambat Hingga ke Hati

2158 Words

Pagi itu apartemen terasa asing dalam keheningannya, seolah segala yang terjadi semalam masih menggantung, belum benar-benar reda. Aruby turun perlahan dari lantai dua, langkahnya pelan karena tubuhnya masih menyimpan sisa gemetar yang tidak sepenuhnya hilang. Begitu tiba di ujung tangga, ia terhenti. Di dapur, berdiri membelakanginya, Kairav terlihat rapi dari ujung rambut sampai ujung sepatu—kemeja hitam, celana jeans gelap, dan jam tangan yang sudah kembali melingkar di pergelangan. Tangannya cekatan mengaduk sesuatu di pan, lalu memindahkannya ke piring. “Kai?” suara Aruby keluar lebih pelan dari niatnya. Kairav menoleh. Senyumnya lembut, stabil, hangat—berbeda jauh dari ketegangan semalam. “Hai. Morning.” Ia memperhatikan wajah Aruby sebentar. “Feel better?” Aruby mengangguk kec

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD