17. Lo mau apain Aruby?!

2226 Words

Apartemen itu terasa terlalu hening setelah pelukan terakhir Kairav mengendur. Keduanya sama-sama butuh jeda. Butuh napas. Butuh sesuatu untuk menutupi fakta bahwa barusan… garis batas itu keduanya lewati dengan sesadar-sadarnya. Aruby menarik diri perlahan, wajahnya masih panas, telinganya merah. Sementara Kairav—yang biasanya selalu penuh kendali—tampak sedikit shock dengan dirinya sendiri. Genggamannya masih tersisa di punggung Aruby, seperti tubuhnya belum sepenuhnya ingin melepaskan. “Gue… gue beneran minta maaf,” ulang Kairav, suara lebih pelan dari sebelumnya. Aruby menggeleng cepat. “Udah, Kai. Udah. Gue juga salah.” Kairav mengalihkan muka, menyisir rambut basahnya ke belakang—gerakan yang biasanya penuh percaya diri, namun kini tampak seperti usaha menjaga dirinya tetap wara

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD